FORGOT YOUR DETAILS?

Sekilas tentang Vertical Garden (Taman Vertikal)

by / Friday, 03 April 2015 / Published in tips

Vertical garden atau teman tegak atau green wall atau living wall atau bisa juga disebut taman dinding adalah tanaman dan elemen taman lainnya yang disusun sedemikian rupa dalam bidang yang tegak lurus atau mendekati tegak lurus sebagai taman dalam waktu yang relatif lama. Penataannya memadukan unsur softscape (tanaman) dan unsur hardscape (bebatuan, besi, stepping stone, dan lain-lain).

Taman Vertikal

Taman Vertikal

Tanaman disusun dalam media tanam tertentu secara permanen sehingga tanaman bisa hidup dan tumbuh secara optimal dalam jangka waktu yang cukup lama pada bidang vertikal.

Ihwal inilah yang membedakannya dengan penataan tanaman pada bidang tegak lurus untuk keperluan dekorasi dinding dan karangan bunga yang tentunya hanya segar untuk beberapa hari. Setelah itu tanaman akan mati karena tidak mendapatkan syarat tumbuh yang memadai.

Untuk menumbuhkan tanaman pada vertical garden biasanya menggunakan metode hidroponik, yakni bertanam tanpa menggunakan tanah. Peran tanah sebagai penopang akar, pendistribusi pupuk, dan persediaan air digantikan oleh media lain, bisa berupa media substrat seperti rock wool, pecahan batu apung,  jelly,  arang sekam, serbuk kelapa, cacahan pakis. dan aneka bahan organik dun anorganik lainnya. Bahkan, tanpa media tanam sama sekali.
Vertical Garden di Indonesia

Layaknya gaya hidup, tren tanaman hias di Indonesia pun silih berganti. Sekitar 1990-an, tanaman palem botol dan palem raja sempat menjadi
primadona. Harganya naik secara drastis dan diburu oleh para pedagang untuk diperjualbelikan. Harga palem bahkan dinilai berdasarkan tinggi tanaman per sentimeter batang. Hanya dalam beberapa tahun kemudian, harga palem botol pun akhimya ambruk.

Palem Botol

Palem Botol

Palem Raja

Palem Raja

Adenium

Adenium

Selanjutnya, sekitar tahun 1998-1999, aglaonema mulai menjadi tren. Donna Carmen dan Pride of Sumatra adalah dua tanaman aglaonema hasil silangan Greg Hambali yang kala itu berharga sangat mahal. Bahkan, nilai jualnya ditentukan oleh berapa banyak lembaran daun tanaman tersebut. Beberapa tahun kemudian harga kedua tanaman tersebut menurun.

Adenium menjadi tanaman yang tren berikutnya  diikuti oleh philodendron, dan diakhiri oleh anthurium yang harganya sangat spektakuler.

Anthurium menjadi puncak dari segala macam tren tanaman hias dengan harga selangit, sekaligus menutup aneka tren tanaman hias yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kehancuran harga anthurium turut andil melemahkan bisnis tanaman hias. Pasca-euforia anthurium, berbagai macam tanaman hias mulai menurun harganya. Selama hampir lima tahun berikutnya, tren tanaman hias di Indonesia mati suri. Hal yang sama terjadi di beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Filipina. Namun. Indonesia masih dinilai selangkah lebih maju dalam perdagangan tanaman hias-mulai dinilai bukan dari tren sehingga harganya tidak melonjak tajam dan tidak turun drastis.

Tanaman hias saat ini dinilai lebih kepada kegunaannya, ketimbang citranya. Masyarakat mulai menjadikan tanaman hias sebagai salah satu kebutuhan. Nilai jual tanaman hias tidak lagi berdasarkan jenis atau spesiesnya yang sedang tren. Nilai tanaman menjadi lebih universal. Semata-mata dinilai dari kecantikannya atau kelangkaannya.

Konsep go green, penghijauan, back to nature, global warming menjadikan tanaman hias mulai dirasakan sebagai kebutuhan untuk keseimbangan kehidupan manusia. Di sinilah kemudian lahir konsep vertical garden dan roof garden. Ketika kebutuhan ruang terbuka hijau sangat diperlukan untuk keseimbangan hidup, tetapi di sisi lain lahan yang dibutuhkan untuk menanam tanaman sangat sempit, selanjumya dicarilah solusi menanam tanaman dalam bidang-bidang yang sebelumnya dinilai tidak mungkin dilakukan.

One Response to “Sekilas tentang Vertical Garden (Taman Vertikal)”

  1. Ola Yolanda says : Reply

    Saya tertarik vertical garden anda

Leave a Reply

TOP
error: Content is protected !!